Diseleksia adalah kondisi ketidakmampuan seseorang yang disebabkan oleh kesulitannya dalam  membaca dan menulis. Kesulitan ini biasanya baru terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah untuk beberapa waktu.

Untuk mengenali anak yang terkena penyakit diseleksia, terdapat beberapa gejala yag terjadi pada penderita, yaitu ketika ia membaca secara lisan, ada kata-kata yang terlewat, menambah atau terdapat penyimpangan kata-kata, anak membaca dengan lambat, sulit mengeja secara benar, tertukar ketika membunyikan huruf atau suku kata, bingung melihat huruf yang mempunyai kemiripan bentuk, seperti d-b, u-n, atau m-n, serta rancu membedakan huruf atau fonem yang memiliki kemiripan bunyi, seperti v dan f.

Pada umumnya, diseleksia disebabkan oleh berbagai penyebab yaitu:

  1. Faktor Keturunan

Penelitian John Bradford (1999) di Amerika menemukan indikasi, bahwa 80 persen dari seluruh subjek yang diteliti oleh lembaganya mempunyai sejarah atau latar belakang anggota keluarga yang mengalami learning disabilities, dan 60% di antaranya punya anggota keluarga yang kidal.

  1. Masalah pendengaran sedari kecil

Jika kesulitan pendengaran terjadi sejak dini dan tidak terdeteksi, maka otak yang sedang berkembang akan sulit menghubungkan bunyi atau suara yang didengarnya dengan huruf atau kata yang dilihatnya.

  1. Faktor kombinasi antara keturunan dan pendengaran

Faktor kombinasi ini menyebabkan kondisi anak dengan gangguan disleksia menjadi semakin parah, sehingga perlu ditangani secara serius dan berkelanjutan, bahkan penanganannya bias sampai anak tersebut dewasa.

Pada otak penderita, terjadi perkembangan yang tidak proporsional pada sistem magno-cellular. Sistem ini berhubungan dengan kemampuan melihat benda bergerak. Akibatnya, objek yang mereka lihat tampak berukuran lebih kecil. Kondisi ini menyebabkan proses membaca jadi lebih sulit karena saat itu otak harus mengenali secara cepat huruf-huruf dan sejumlah kata berbeda yang terlihat secara bersamaan oleh mata.

Pada suatu kasus seorang anak dalam masa early childhood mengalami gejala yang terjadi pada penderita diseleksia yang tentunya bila dibiarkan tanpa perhatian dan penaganan khusus maka akan sangat mengganggu kegiatan belajarnya hingga ia dewasa.

Peran orang terdekat tentu sangatlah berarti untuk membantu kelangsungan belajar seorang anak yang menderita diseleksia. Karena hakikat seorang manusia yang yidak bias hidup sendiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain untuk menunjang kelangsungan hidupnya.

Sebagai pendidik dalam sekolah formal yang setidaknya mengetahui sekilas perkembangan belajar tiap anak, seharusnya telah mencurigai adanya gejala diseleksia pada penderita.

Karena seorang pendidik dalam sekolah formal tidak memiliki terlalu banyak waktu untuk menuntun satu per satu anak yang terlambat dalam membaca dan menulis, maka hal ini harusnya dikonsultasikan kepada orang tua atau wali daripada anak yang dicurigai mengalami penyakit diseleksia.

Maka peran orang tua atau wali daripada anak yang menderita diseleksia pada kasus ini terlihat sangat dibutuhkan untuk memberikan perhatian khusus, intensif dan berkelanjutan dalam melatih anak, karena anak disleksia sering merasa frustasi dan sulit untuk menyelesaikan tugas. Padahal mereka tidak mengalami keterlambatan intelektual. bahkan dari beberapa kasus anak dengan disleksia memiliki IQ lebih tinggi dari anak lainnya.

Orang tua atau wali dapat mengatasi kekecewaan anak dalam keterlambatannya dibandingkan denga teman-temannya dengan cara yang menarik dan memberi kesan yang mudah diingat anak seperti bermain permainan kata seperti scrabble dengan memberikan hadiah ketika anak yag menderita diseleksia tersebut memenangkan 3-5 kata yang telah orang tua atau wali rencanakan.

Pada zaman serba teknologi ini, banyak sekali permainan dan aplikasi yang dapat mengasah kemampuan anak seperti aplikasi menebalkan, membedakan huruf pada banyak smartphone atau tablet berlayar touch yang sudah dikemas sangat menarik dengan berbagai gambar dan warna yang memancing ketertarikan anak.

Hal tersebut tentu sangat membantu dalam mengasah kemampuan anak penderita diseleksia dalam menghafal, membaca dan juga menulis sehingga dapat ditargetkan pada setiap harinya perkembangan anak tersebut dan juga mengurangi kemungkinan kejenuhan anak dalam belajar dan terus mencoba mengetahui letak kesalahannya dalam belajar.

Orang tua atau wali dari anak yang menderita diseleksia tidak boleh putus asa dalam menagani ataupun membimbingnya, karena kesabaran dan strategi mendidik anak penderita diseleksia sangat dibutuhkan karena tidak melepas kemungkinan seorang penderita diseleksia akan menjadi orang yang hebat karena kesabaran orang berarti yang mendidiknya. Hal ini dibuktikan dengan kejeniusan seorang penderita diseleksia yang sudah sangat terkenal yaitu Albert Enstein, Leonardo Da Vinci, dan Tom Cruise yang kini bisa menghafal scenario yang panjang dan rumit.